Panggilan atau teks +62-0-274-37-0579

Hipoalbuminemia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Myles Bannister

Hipoalbuminemia adalah kondisi ketika kadar albumin dalam darah berada di bawah batas normal. Albumin adalah protein yang dibuat oleh organ hati dan merupakan komponen penting dalam plasma darah. Simak gejala, penyebab, dan cara mengatasi kondisi ini.

Apa Itu Hipoalbuminemia?

Hipoalbuminemia adalah keadaan di mana darah mengalami defisit albumin. Keadaan ini lebih sering terlihat pada mereka yang berusia lanjut dan dibutuhkan antara 3,5 sampai 5,9 gram per desiliter (g/dL) albumin, tergantung pada usia.

Tanpa albumin yang cukup, tubuh tidak dapat mencegah kebocoran cairan dari pembuluh darah dan menghambat perpindahan zat penting ke seluruh tubuh. Beberapa zat ini diperlukan agar cairan tubuh tetap terkendali.

Gejala Hipoalbuminemia

Meski albumin digunakan di seluruh tubuh, gejalanya tidak langsung terlihat. Beberapa gejala umumnya termasuk:

  • Edema (penumpukan cairan) di kaki atau wajah.
  • Kulit lebih kasar atau lebih kering dari biasanya.
  • Rambut menipis.
  • Penyakit kuning (kulit tampak kuning).
  • Kesulitan bernafas.
  • Kelelahan.
  • Detak jantung tidak teratur.
  • Kenaikan berat badan yang tidak normal.
  • Nafsu makan menurun.
  • Diare.
  • Mual.
  • Muntah.

Gejala yang muncul tergantung pada penyebabnya. Misalnya, jika disebabkan oleh pola makan yang buruk, gejala dapat berkembang secara bertahap. Jika disebabkan oleh luka bakar, beberapa gejala dapat muncul secara langsung.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera dapatkan penanganan medis jika Anda mulai merasa lelah atau kesulitan bernapas tanpa peringatan. Jika anak Anda tidak tumbuh pada tingkat yang normal sesuai usianya, konsultasikan dengan dokter anak untuk melakukan tes kadar albumin.

Penyebab Hipoalbuminemia

Peradangan di seluruh tubuh seperti sepsis atau setelah operasi merupakan penyebab umumnya. Peradangan juga dapat berasal dari intervensi medis seperti penggunaan ventilator atau mesin bypass. Kondisi ini disebut kebocoran kapiler atau third spacing.

Hipoalbuminemia juga terjadi pada mereka yang memiliki asupan protein atau kalori yang terbatas dalam makanan. Penyebab umum lainnya termasuk luka bakar, kekurangan vitamin, malnutrisi, gangguan penyerapan nutrisi, dan pemberian cairan intravena saat dirawat di rumah sakit.

Faktor Risiko Hipoalbuminemia

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kadar albumin dalam tubuh berkurang meliputi diabetes, hipertiroidisme, kondisi jantung, lupus, sirosis, dan sindrom nefrotik. Kadar albumin yang rendah juga meningkatkan risiko komplikasi pada beberapa kondisi seperti penyakit paru obstruktif kronik.

Hipoalbuminemia sering terjadi pada orang dengan kondisi medis akut dan kronis. Sebanyak 20% pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami penurunan kadar albumin. Kadar serum albumin juga menjadi indikator penting untuk risiko morbiditas dan mortalitas.

Diagnosis Hipoalbuminemia

Kadar albumin dalam tubuh dapat terlihat melalui tes darah lengkap dan tes serum albumin yang umum dilakukan. Dokter juga dapat mengukur jumlah albumin yang dikeluarkan dalam urine melalui tes mikroalbuminuria atau tes albumin-to-creatinine (ACR). Tes darah C-reactive protein (CRP) juga dapat digunakan untuk mendiagnosis hipoalbuminemia.

Tes pencitraan seperti USG perut atau ekokardiografi mungkin diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan sirosis atau gagal jantung. Selain itu, foto rontgen juga dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab peradangan.

Pengobatan Hipoalbuminemia

Perawatan tergantung pada kondisi yang mendasarinya. Dokter mungkin menyarankan perubahan dalam pola makan jika kekurangan nutrisi menjadi penyebabnya. Makanan tinggi protein seperti kacang-kacangan, telur, dan produk susu dapat meningkatkan kadar albumin.

Jika Anda mengonsumsi alkohol secara rutin, disarankan untuk mengurangi atau berhenti minum alkohol karena dapat menurunkan kadar protein darah. Obat tekanan darah juga dapat membantu mengeluarkan albumin melalui urine jika hipoalbuminemia terkait dengan kondisi ginjal. Beberapa obat seperti captopril dan benazepril dapat mengurangi gejala.

Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh juga dapat membantu mencegah peradangan yang dapat menyebabkan penurunan kadar albumin. Dokter mungkin akan meresepkan obat atau suntikan kortikosteroid.

Komplikasi Hipoalbuminemia

  • Radang paru-paru
  • Efusi pleura, penumpukan cairan di sekitar paru-paru
  • Asites, cairan menumpuk di area perut
  • Atrofi, melemahnya otot secara signifikan

Albumin memiliki peran dalam pengangkutan berbagai zat dalam tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan reaksi terhadap obat-obatan yang biasanya terikat dengan protein dalam plasma, seperti peningkatan kadar obat, metabolisme hati yang lebih cepat, atau keduanya. Oleh karena itu, keadaan ini dapat menyebabkan komplikasi serius dan harus ditangani dengan segera.

Referensi

Jewell, Tim. 2018. What Is Hypoalbuminemia and How Is It Treated?. https://www.healthline.com/health/hypoalbuminemia#outlook. (Diakses pada 4 Desember 2020).

  • Peralta, Ruben. 2020. Hypoalbuminemia. https://emedicine.medscape.com/article/166724-overview. (Diakses pada 4 Desember 2020).

  • About The Author

    Dextamine: Manfaat, Dosis, Efek Samping

    Gejala & Pengobatan Infeksi Bakteri Klebsiella Pneumoniae