Panggilan atau teks +62-0-274-37-0579

Tongue Thrust (Lidah Menjulur): Penyebab, Jenis, Cara Mengatasi

Myles Bannister

Tongue thrust adalah fenomena yang dapat merusak gigi seseorang. Ini adalah kondisi di mana lidah terlalu menjulur ketika mulut tertutup tanpa melakukan aktivitas. Simak informasi selengkapnya mengenai tongue thrust berikut ini!

Apa itu Tongue Thrust?

Tongue thrust adalah kondisi di mana lidah terlalu menjulur keluar mulut saat beristirahat atau melakukan aktivitas seperti mengunyah, menelan, dan berbicara. Tongue thrust juga dikenal sebagai orofacial myofunctional disorder (OMD) atau gangguan fungsi otot mulut dan wajah.

Seseorang diperkirakan menelan sekitar 1.200 hingga 2.000 kali dalam sehari dengan tekanan sekitar 2 kilogram setiap kali menelan. Pada individu dengan tongue thrust, tekanan yang berlebihan ini dapat mendorong gigi keluar dari posisi yang seharusnya, menyebabkan gigi menjadi berantakan.

Keadaan ini dapat menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan jika dilakukan secara terus-menerus.

Penyebab Tongue Thrust

Berikut adalah beberapa faktor penyebab tongue thrust:

  • Kebiasaan menghisap jempol atau jari tangan, rambut, atau pakaian.
  • Bernapas melalui mulut.
  • Suka menggigit benda tertentu (misalnya, menggigit pulpen).
  • Menggigit kuku atau menggigit bibir dan pipi.
  • Pembesaran amandel atau kelenjar tiroid.
  • Kehilangan gigi pada usia dini.
  • Ukuran lidah yang terlalu besar.

Diagnosis Tongue Thrust

Sejumlah profesional kesehatan dapat mendiagnosis tongue thrust, antara lain:

  • Dokter umum.
  • Dokter anak.
  • Dokter gigi.
  • Ortodontis.

Pemeriksaan tongue thrust biasanya melibatkan pengamatan cara berbicara dan menelan seseorang. Cara ini dilakukan dengan memegang bibir bawah pasien untuk melihat teknik menelan mereka. Pada pemeriksaan ini, dapat melibatkan ahli medis dari bidang lainnya.

Misalnya, untuk mendiagnosis tongue thrust pada anak-anak, dokter dapat memberikan diagnosis awal dan anak perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh ahli patologi bahasa dan bicara, ortodontis, spesialis THT, atau ahli gastroenterologi.

Jenis Tongue Thrust

Tongue thrust dapat terjadi pada bayi dan orang dewasa. Berikut adalah beberapa ciri khas tongue thrust pada bayi dan orang dewasa.

Tongue thrust pada bayi

Pada bayi yang masih minum ASI atau menggunakan botol, tongue thrust adalah hal yang normal. Seiring dengan pertumbuhan, cara berbicara dan menelan bayi akan berubah dengan sendirinya.

Namun, beberapa jenis botol dapat menyebabkan tongue thrust yang berlangsung lama, bahkan setelah usia balita dan awal kanak-kanak.

Tongue thrust pada bayi juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

  • Kebiasaan menghisap jempol atau jari-jari yang mempengaruhi pergerakan lidah.
  • Alergi yang menyebabkan pembengkakan kronis pada amandel atau kelenjar tiroid.
  • Tongue-tie, kondisi di mana pita jaringan di bawah lidah terlalu kencang atau pendek.

Kondisi ini dapat dikenali pada bayi dengan tanda-tanda berikut:

  • Lidah yang terlihat di antara gigi ketika bayi sedang diam, menelan, atau berbicara.
  • Bernafas melalui mulut.
  • Tidak dapat menutup mulut dengan sempurna.
  • Kesulitan berbicara, terutama dalam mengucapkan suara “s” dan “z” yang serupa.

Tongue thrust pada orang dewasa

Tongue thrust dapat berlanjut hingga dewasa jika tidak diobati atau dihentikan saat masih anak-anak. Pada orang dewasa, tongue thrust juga dapat disebabkan oleh alergi kronis atau pembengkakan amandel. Stres juga dapat menjadi pemicu tongue thrust.

Gejala tongue thrust yang dialami oleh orang dewasa sama dengan gejala pada bayi dan anak-anak. Salah satu gejalanya adalah kesulitan saat makan. Gejala lainnya adalah menjulurkan lidah saat tidur.

Selain gejala-gejala di atas, orang dewasa yang mengalami tongue thrust biasanya memiliki struktur wajah yang lebih panjang karena tidak dapat menutup mulut dengan sempurna dan mengunyah dengan normal. Ukuran lidah mereka juga cenderung lebih besar dari ukuran lidah orang biasa. Tongue thrust pada orang dewasa dapat mengakibatkan open bite, di mana gigi depan atas menonjol keluar melebihi gigi depan bawah, sehingga makanan dapat terselip di antara gigi mereka.

Cara Mengatasi Tongue Thrust

Penanganan tongue thrust pada anak dan orang dewasa mirip. Namun, perawatan pada anak mungkin melibatkan pemasangan alat ortodontis yang disebut “tongue crib” pada langit-langit mulut anak.

Tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki posisi gigi depan atas yang jorok ke depan, dan jarang dilakukan pada orang dewasa.

Perawatan tongue thrust pada orang dewasa melibatkan orofacial myology, yaitu terapi berkelanjutan untuk memperbaiki posisi bibir, rahang, dan lidah. Terapi ini juga dapat memperbaiki kebiasaan menelan yang tidak benar.

Terapi untuk tongue thrust juga dapat melibatkan perawatan masalah hidung, alergi, dan pernapasan.

Komplikasi Tongue Thrust

Jika tidak diobati, tongue thrust dapat menyebabkan malformasi pada gigi. Tekanan yang berlebihan saat lidah menekan gigi dapat mendorong gigi keluar dari mulut, menciptakan celah di antara gigi atas dan gigi bawah.

Tongue thrust yang tidak ditangani juga dapat menyebabkan gangguan bicara seperti cadel. Selain itu, bentuk wajah dapat terlihat memanjang dan lidah bisa terlihat menonjol di antara gigi.

Perawatan tongue thrust dapat berhasil jika penderita berkomitmen untuk menjalani terapi yang direkomendasikan oleh dokter. Selain itu, disarankan untuk memeriksa kondisi kesehatan lain yang mungkin menjadi penyebab tongue thrust.

Referensi

  1. Anonim. 2021. Tongue Thrusts. https://www.flosslincoln.com/tongue-thrust-therapy. (Diakses pada 26 Januari 2022).
  2. Gotter, Ana. 2020. Tongue Thrust in Children and Adults: What You Should Know. https://www.healthline.com/health/tongue-thrust. (Diakses pada 26 Januari 2022).
  3. Killara Dental. 2021. Tongue thrust habits in children and adults. Cause, effects and treatments. https://killaradental.com.au/tongue-thrust-habits-children-adults-cause-effects-treatments. (Diakses pada 26 Januari 2022).

About The Author

Rontgen Dada: Tujuan, Prosedur, Efek Samping, Biaya

Histerektomi: Tujuan, Prosedur, Risiko, dan Lainnya